Rumah Gadang Sebagai Lembaga Keuangan Keluarga di Sumatera Barat


Kekerabatan matrilineal Minangkabau adalah dalam bentuk keluarga besar. Salah satu cirinya adalah rumah gadang. Nenek moyang Minangkabau barangkali menginginkan, agar keluarga besar itu tinggal pada satu tempat. Oleh karena itu, tempat tinggalnya dibuat sedemikian rumah, sehingga keutuhan keluarga besar itu tetap bertahan. Dari rumah gadang itulah diatur segala yang menyangkut dengan kehidupan keluarga. Dengan begitu, rumah gadang bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja, tetapi juga sebagai pusat administrasi pemerintahan kerabat matrilineal.

Rumah Gadang Sebagai Lembaga Keuangan Keluarga

Mamak sebagai kepada pemerintahan adat tidak memiliki kantor. Ia tidak memiliki pusat administrasi dan pusat ketatausahaan seperti pemerintahan sekarang. Oleh karena itu, rumah gadang memiliki banyak fungsi. Sebagai rumah ia merupakan tempat tinggal, sebagai kesaksian sejarah ia sebagai monumen, dan sebagai pusat administrasi keluarga matrilineal ia menjadi lembaga resmi keluarga.

Lembaga rumah gadang menggambarkan martabat dan harga diri keluarga matrilineal. selain itu rumah gadang juga menggambarkan kelarasan yang dianutnya. Martabat, kekayaan dan kecendekiaan penghuninya tergambar dalam kesempurnaan bangunannya. Jika rumah gadang tampil dengan kemegahan dan dilengkapi dengan rangkiangnya, pertanda martabat dan harga diri penghuninya sangat tinggi. Kelarasan yang dianutnya tergambar pada bentuk lantainya. Jika lantai beranjung kiri dan kanan, berarti menganut kelarasan Koto Piliang, jika lantainya rata kiri kanan berarti menganut kelarasan Bodi Caniago.

Sebagai lembaga, rumah gadang menjadi tempat berkumpul keluarga matrilineal (keluarga saparuik). Pada hari baik, bulan baik dan peristiwa penting dalam keluarga, semua anggota keluarga berkumpul. Di rumah gadang itu mereka bertemu dan berkomunikasi. Pertemuan keluarga seperti menunjukkan kerukunan dan kebersamaan yang erat antar warga rumah gadang. Dengan demikian, rumah gadang sebagai lembaga merupakan naungan dan tali pengikat semua anggota keluarga.

Di rumah gadang, mamak mempersiapkan kemenakan laki-laki untuk menjadi pemimpin. Pendidikan terhadap kaum lelaki, terutama di bidang adat dan agama, diberikan mamak di rumah gadang. Proses regenerasi (pelimpahan nilai-nilai) berlangsung secara alami di rumah gadang. Ibu mempersiapkan anak perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga juga berlangsung di rumah gadang. Di rumah itu pula mereka menjadi wanita Minangkabau. Jadi, rumah gadang juga merupakan lembaga pendidikan bagi masyarakat Minangkabau.

Pengendalian harta pusaka (harta benda dan pusaka) juga dari rumah gadang. Penggunaan hasil sawah, hasil ladang, hasil ternak dilakukan oleh mamak dari rumah gadang. Penggantian dan persiapan orang yang akan menerima gelar pusaka juga dilakukan di rumah gadang. Hal itu menunjukkan bahwa rumah gadang menjadi lembaga pusat kegiatan ekonomi dan pusat kepemimpinan matrilineal.

Begitulah fungsi rumah gadang sebagai lembaga di dalam masyarakat matrilineal Minangkabau.

Sumber Referensi:
Amran, Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
Junus, Umar. 1984. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau, Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Mahmud, St. dkk 1978. Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah. Limo Kaum: Tanpa Penerbit.
Navis, A.A 1986. Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Pt Pustaka Garafitipers.
Penghulu, M. Rasyid Manggis Dt. Rajo. 1982. Sejarah Ringkas Minangkabau dan Adatnya. Jakarta Mutiara.
Thaib, Darwis, glr. Dt. Sidi Bandoro. 1965. Seluk Beluk Adat Minangkabau. Bukittinggi: NV Nusantara.
Zulkarnaini. 1994. Modul Mata Pelajaran Muatan Lokal SLTP Terbuka. Jakarta: Depdikbud, Proyek Peningkatan Mutu dan Pelaksanaan Wajib Belajar SLTP.
Ramayulis, dkk. Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal tentang Sejarah Kebudayaan Minangkabau pada SD, SLTP, SLTA di Sumatera Barat. Padang: Tanpa Tahun, Tanpa Penerbit.
Penghulu, H. Idrus Hakimy Dt. Rajo. 1984. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Karya CV.
Syarifuddin, Amir. 1984. Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta: Gunung Agung.
Tuah, H.Datoek, tt. Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.

Baca Juga:


What do you think?