Randai Adalah Pertunjukan Yang Masih Diminati Masyarakat Sumatera Barat


Randai merupakan salah satu permainan anak nagari yang masih dimanati oleh masyarakat. Di perkampungan masih terdapat sedikit banyaknya pertunjukan kesenian ini yang menjadi tontonan menarik. Biasanya dimainkan pada malam hari di lapangan terbuka. Penonton duduk berkeliling, pertunjukkan berlangsung di tengah-tengah penonton tersebut.

Randai Adalah Pertunjukan Yang Masih Diminati Masyarakat

Randai dimainkan oleh banyak orang. Mereka bermain membentuk lingkaran, sambil melangkah dengan gaya tarian, dan bernyanyi secara bergantian. Sebelum nyanyian di tampilkan, mereka membuat gerakan dengan langkah maju, mundur, ke dalam memperkecil lingkaran dan keluar lagi. Kadang-kadang mereka menyepak, menerjang, memukul dan meninju. Setelah itu mereka berjalan sambil bernyanyi.

Mula-mula seseorang menyanyikan sebait pantun atau sepotong kisah. Pada setiap kalimat terakhir mereka menyanyikan sebait pantun tersebut secara bersama-sama. Selesai menyanyikan sebait pantun atau sepotong kisah, mereka kembali melakukan gerakan pencak. Kemudian, mereka duduk dalam lingkaran untuk beristirahat. Untuk mengisi waktu istirahat, mereka memainkan dialog antar cerita, bersila atau melakukan kegiatan kesenian seperti bersalung, berebab, dan sebagainya.

Randai merupakan gabungan dari beberapa pertunjukkan. Di dalamnya terdapat pencak, dendang, salung, rebab, kaba, dan teater. Gabungan dari beberapa pertunjukkan itu membuat fungsi randai berganda. Fungsi tersebut diantaranya sebagai seni pertunjukkan untuk hiburan, sebagai media menyampaikan pesan, media penyampaian nasehat, dan juga sebagai pendidikan. Sebagai suatu pertunjukkan, dalam dekade tertentu merupakan tontonan menarik bagi masyarakat. Sebagai media penyampaian pesan, peranannya sangat ampuh, karena cara penyajiannnya yang menarik.

Sumber Referensi:
Amran, Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
Junus, Umar. 1984. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau, Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Mahmud, St. dkk 1978. Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah. Limo Kaum: Tanpa Penerbit.
Navis, A.A 1986. Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Pt Pustaka Garafitipers.
Penghulu, M. Rasyid Manggis Dt. Rajo. 1982. Sejarah Ringkas Minangkabau dan Adatnya. Jakarta Mutiara.
Thaib, Darwis, glr. Dt. Sidi Bandoro. 1965. Seluk Beluk Adat Minangkabau. Bukittinggi: NV Nusantara.
Zulkarnaini. 1994. Modul Mata Pelajaran Muatan Lokal SLTP Terbuka. Jakarta: Depdikbud, Proyek Peningkatan Mutu dan Pelaksanaan Wajib Belajar SLTP.
Ramayulis, dkk. Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal tentang Sejarah Kebudayaan Minangkabau pada SD, SLTP, SLTA di Sumatera Barat. Padang: Tanpa Tahun, Tanpa Penerbit.
Penghulu, H. Idrus Hakimy Dt. Rajo. 1984. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Karya CV.
Syarifuddin, Amir. 1984. Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta: Gunung Agung.
Tuah, H.Datoek, tt. Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.

Baca Juga:


What do you think?