Pembantu Penghulu Dalam Menjalankan Tugas di Sumatera Barat


Penghulu sebagai “urang gadang” (orang besar) mempunyai beberapa orang pembantunya. Pembantu utamanya adalah “manti, malin dan dubalang”. Selain ketiga pembantu tersebut, adalah “panungkek” merupakan pembantu yang dekat dengan penghulu. Masing-masing pembantu bekerja sama dan menjalankan tugasnya. Penghulu dengan ketiga pembantunya tersebut dikenal dengan “urang nan ampek jinih” (orang yang empat jenis).

Pembantu Penghulu Dalam Menjalankan Tugas

Penghulu di dalam ungkapan adat dinyatakan sebagai berikut:

Kayu gadang di tangah koto,
Bapucuak sabana bulek,
Baurek sabana tunggang,
Batang gadang tampek basanda,
Dahannyo tampek bagantuang,
Ureknyo tampek baselo,
Daun rimbun tampek balinduang,
Tampek balinduang kapanehan,
Tampek bataduah kahujanan.

Nan tinggi tampak jauah,
Nan dakek jolong basuo,
Kapai tampek batanyo,
Kapulang tampek babarito.

Ungkapan tersebut menyatakan, seorang penghulu di Minangkabau adalah sebagai pelindung bagi anak dan kemenakannya, juga sebagai pengayom dari masyarakatnya. Selain itu, penghulu juga merupakan orang yang terpandang dan dikenal oleh semua anak dan kemenakannya. Sebagai pelindung, penghulu juga menjadi tempat bertanya dan tempat melapor bagi yang dipimpinnya.

1. Manti

Manti adalah pembantu penghulu di bidang tatalaksana pemerintahan. Hal-hal yang berhubungan dengan pemerintah menurut adat diurus oleh manti. Mengenai manti ini diungkapkan di dalam adat sebagai berikut:

Urang nan cadiak candokio,
Sarato arif bijaksano,
Tahu jo unak kamanyangkuik,
Tahu jo runciang kamancucuak,
Tahu jo latiang kamanganai,
Tahu jo dahan kamaimpok,
Tahu jo ombak nan basabuang,
Tahu jo angin nan basiru,
Tahu jo kieh kato sampai,
Alun bakilek lah takalam,
Takilek ikan dalam aia,
Ikan takilek jalo tibo,
Lah tantu jantan batinonyo.

Seorang manti adalah orang yang airf bijaksana. Ia pandai membaca situasi, membaca keadaan. Ia dapat bertindak tepat dan cepat dalam mengatasi masalah. Dalam melaksanakan tugas ia senantiasa bertindak hati-hati. Oleh karena itu, manti disebut juga sebagai pembantu utama penghulu di bidang pemerintahan adat.

2. Malin

Malin adalah pembantu penghulu di bidang agama. Semua urusan agama menjadi tanggung jawabnya. Ia bertindak menurut ajaran Islam, menurut Al-qur’an dan Hadits. Tugasnya membimbing masyarakat ke jalan yang ditentukan oleh Islam. Ia membimbing anak-anak mengaji, mengajari anak-anak melaksanakan ibadah, dan memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang islam. Malin dinyatakan di dalam adat sebagai berikut:

Suluah bendang dalam nagari,
Nan tahu di hala dengan haram,
Nan tahu disah dengan batal,
Nan tahu jo syariat dan hakikat.

3. Dubalang (Hulubalang)

Dubalang (hulubalang) adalah pembantu penghulu di bidang keamanan. Ia bertugas menjaga dan memelihara keamanan dan ketentraman masyarakat. Dengan keberadaan dubalang, masyarakat merasa aman dan tentram. Mengenai dulabang dinyatakan di dalam adat sebagai berikut:

Nan bamato nyalang, talingo nyariang,
Mamakai usua jo pareso,
Tahu disumbang dengan salah,
Parik paga dindiang nan kokoh,
Maampang lalu ka subarang,
Mandindiang sampai ka langik,
Manjago cabua koknyo tumbuah,
Sia baka maliang jo cilok,
Manjago barih kok talampau.

4. Panungkek

Pembantu penghulu yang lain adalah “Panungkek”. Panungkek berfungsi sebagai pengganti atau mewakili penghulu jika berhalangan. Ia dapat mewakili penghulu dalam rapat-rapat nagari jika penghulu tidak bisa hadir. Hal-hal yang menjadi tanggung jawabnya ialah semua tugas yang dilimpahkan oleh penghulu atau semua wewenang yang diberikan kepadanya.

Semua pembantu penghulu tersebut di dalam adat dinyatakan sebagai berikut:

Panghulu sabagai bumi,
Manti sabagai angin,
Malin sabagai aia,
Dubalang sabagai api.

Panghulu maukum sapanjang adat,
Malin maukum sapanjang syarak,
Manti maukum sapanjang sangketo,
Dubalang maukum tahuak parang.

Penghulu di pintu utang,
Malin di pintu syarak,
Manti di pintu sangketo,
Dubalang di pintu mati.

Jadi, seorang penghulu di Minangkabau memiliki pembantu-pembantu dalam melaksanakan tugas. Masing-masing pembantu mempunyai tugas dan alur kerja yang jelas. Namun, keputusan akhir atau pengambil keputusan tetap berada di tangan penghulu. Pembantu-pembantu itu memberikan pertimbangan kepada penghulu dalam bidangnya masing-masing.

Sumber Referensi:
Amran, Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
Junus, Umar. 1984. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau, Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Mahmud, St. dkk 1978. Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah. Limo Kaum: Tanpa Penerbit.
Navis, A.A 1986. Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Pt Pustaka Garafitipers.
Penghulu, M. Rasyid Manggis Dt. Rajo. 1982. Sejarah Ringkas Minangkabau dan Adatnya. Jakarta Mutiara.
Thaib, Darwis, glr. Dt. Sidi Bandoro. 1965. Seluk Beluk Adat Minangkabau. Bukittinggi: NV Nusantara.
Zulkarnaini. 1994. Modul Mata Pelajaran Muatan Lokal SLTP Terbuka. Jakarta: Depdikbud, Proyek Peningkatan Mutu dan Pelaksanaan Wajib Belajar SLTP.
Ramayulis, dkk. Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal tentang Sejarah Kebudayaan Minangkabau pada SD, SLTP, SLTA di Sumatera Barat. Padang: Tanpa Tahun, Tanpa Penerbit.
Penghulu, H. Idrus Hakimy Dt. Rajo. 1984. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Karya CV.
Syarifuddin, Amir. 1984. Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta: Gunung Agung.
Tuah, H.Datoek, tt. Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.

Baca Juga:


What do you think?