Hakikat dan Keindahan Gerak Silat Tradisional Minangkabau Sumatera Barat


Silat tradisional bukanlah semata-mata mengutamakan kekuatan pisik. Akan tetapi lebih mengutamakan gerakan yang mengikuti kelenturan tubuh. Gerakan-gerakan yang dilakukan mengikuti irama gerak tubuh. Selain itu, setiap gerakan disesuaikan dengan falsafah “alam takambang jadi guru”.

Jika silat merupakan gerakan-gerakan untuk pertahanan atau bela diri, pencak adalah gerakan untuk pertunjukan. Keindahan gerak baik silat maupun pencak, merupakan kombiansi antara gerakan kaki, gerakan tangan, dan gerakan tubuh berpusat pada persendian. Gerakan-gerakan itu adalah mengikuti gerakan yang bersumber dari alam. Misalnya gerakan yang mencontoh gerakan binatang seperti harimau, kucing, kijang dan sebagainya. Kombinasi antara gerakan-gerakan tersebut menimbukan keindahan tersendiri.

Hakikat dan Keindahan Gerak Silat Tradisional Minangkabau

Gerakan dengan letikan tangan seirama dan seimbang dengan gerakan langkah. Kemudian diikuti dengan liukan tubuh yang bersumber dari gerakan pinggang. Jika disaksikan, gerakan-gerakan itu menimbulkan keindahan yang menarik bagaikan sebuah pertunjukan tari.

Sedangkan, hakikat permainan silat adalah ajaran atau pendidikan. Nilai yang ditanamkan melalui silat adalah nilai budi. Setiap pesilat, keutamaannya adalah budi dan kepribadian. Hal itu terungkap dalam pernyataan “musuh indak dicari, basuo pantang dielakkan” ungkapan “musuh pantang dicari” menyatakan bahwa seorang pesilat betapapun tinggi ilmunya, ia tidak pernah mencari musuh. Ia lebih mengutamakan mencari teman, saudara atau dunsanak. Akan tetapi jika musuh itu bertemu, ia juga tidak mengelak, ia tidak akan menghindar. Ia akan melayaninya dengan segala kemampuan.

Keutamaan budi itu, terlihat pula dalam ungkapan “seperti ilmu padi, makin berisi, makin tunduk” (semakin berisi, semakin tunduk). Seorang pesilat memiliki sifat padi. Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hati, semakin penyabar dan semakin mampu mengendalikan diri. Hal itu diajarkan dan dilatihkan oleh guru silat kepada murid-muridnya.

Seorang pesliat (pandeka) selalu di tuntut untuk membela kebenaran. Mereka selalu berjanji untuk menegakkan kebenaran dan memerangi kebatilan. Ilmu yang diperolehnya dari guru akan ia pergunakan untuk kebaikan. Ia akan selalu membela yang lemah, memerangi kebatilan, dan menegakkan kebenaran atau yang hak. Setiap perguruan silat memiliki janji, ikrar, atau sumpah. Orang yang melanggar sumpah itu akan dikucilkan dari perguruan dan kadang-kadang mendapat musibah karena sumpahnya.

Jadi, hakikat permainan silat secara lahir adalah untuk membela diri dan secara moral merupakan penerapan ajaran budi luhur.

Sumber Referensi:
Amran, Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
Junus, Umar. 1984. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau, Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Mahmud, St. dkk 1978. Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah. Limo Kaum: Tanpa Penerbit.
Navis, A.A 1986. Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Pt Pustaka Garafitipers.
Penghulu, M. Rasyid Manggis Dt. Rajo. 1982. Sejarah Ringkas Minangkabau dan Adatnya. Jakarta Mutiara.
Thaib, Darwis, glr. Dt. Sidi Bandoro. 1965. Seluk Beluk Adat Minangkabau. Bukittinggi: NV Nusantara.
Zulkarnaini. 1994. Modul Mata Pelajaran Muatan Lokal SLTP Terbuka. Jakarta: Depdikbud, Proyek Peningkatan Mutu dan Pelaksanaan Wajib Belajar SLTP.
Ramayulis, dkk. Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal tentang Sejarah Kebudayaan Minangkabau pada SD, SLTP, SLTA di Sumatera Barat. Padang: Tanpa Tahun, Tanpa Penerbit.
Penghulu, H. Idrus Hakimy Dt. Rajo. 1984. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Karya CV.
Syarifuddin, Amir. 1984. Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta: Gunung Agung.
Tuah, H.Datoek, tt. Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.
Image: wisatanagari.com

Baca Juga:


What do you think?