Daerah Rantau Penduduk Luhak Agam


Daerah Rantau Penduduk Luhak Agam
Penduduk Luhak Agam dahulunya banyak menyebar ke arah Utara dan ke arah Barat. Ke arah Utara sampai ke perbatasan Sumatera Utara sekarang. Sedangkan ke arah Barat sampai ke daerah pantai barat lautan Hindia sepanjang wilayah Sumatera Barat sekarang.

Seperti halnya penduduk Luhak Tanah Datar, mereka menyebar ke wilayah rantau juga dengan alasan mencari kehidupan yang lebih baik. Pergi merantau untuk berusaha di daerah-daerah yang dituju, untuk bertani, bercocok tanam, berladang, dan berbagai usaha lainnya. Lama-kelamaan mereka mendirikan pemukiman dan tinggal selamanya di daerah rantau tersebut. selain itu, mereka juga mengembangkan adat dan kebudayaannya, hingga wilayah rantau tersebut kemudian menjadi wilayah Minangkabau.

Rantau Agam di sepanjang pantai Samudera Hindia, mulai dari pantai Air Bangis sampai ke pantai Tiku Pariaman. Sedangkan daerah pedalaman meliputi Pasaman Barat, Pasaman Timur, Panti, Rao, Lubuk Sikaping, dan daerah-daerah sekitarnya.

Selain daerah rantau, Luhak Agam juga memiliki daerah yang dikenal dengan “Ujuang Darek Kapalo Rantau”, yaitu daerah perbatasan antara rantau dengan luhak. Daerah-daerah itu meliputi Palembayan, Silaras Air, Lubuak Basuang, Kampung Pinang, Simpang Ampek, Sungai Garinggiang, Lambah Bawan, Tigo Koto, Garagahan, dan Manggopoh.

Pada dasarnya, daerah rantau Luhak Agam meliputi seluruh daerah Kabupaten Pasaman sekarang dan sebagian wilayah Kabaputen Padang Pariaman sekarang.

Dibandingkan dengan daerah rantau Luhak Tanah Datar, ternyata nagarinya lebih sedikit. Akan tetapi jika dilihat di dalam peta, wilayahnya cukup luas. Mungkin nagarinya belum berkembang secara pesat, tetapi wilayahnya sangat luas.

Sumber Referensi:
Amran, Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
Junus, Umar. 1984. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau, Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Mahmud, St. dkk 1978. Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah. Limo Kaum: Tanpa Penerbit.
Navis, A.A 1986. Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Pt Pustaka Garafitipers.
Penghulu, M. Rasyid Manggis Dt. Rajo. 1982. Sejarah Ringkas Minangkabau dan Adatnya. Jakarta Mutiara.
Thaib, Darwis, glr. Dt. Sidi Bandoro. 1965. Seluk Beluk Adat Minangkabau. Bukittinggi: NV Nusantara.
Zulkarnaini. 1994. Modul Mata Pelajaran Muatan Lokal SLTP Terbuka. Jakarta: Depdikbud, Proyek Peningkatan Mutu dan Pelaksanaan Wajib Belajar SLTP.
Ramayulis, dkk. Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal tentang Sejarah Kebudayaan Minangkabau pada SD, SLTP, SLTA di Sumatera Barat. Padang: Tanpa Tahun, Tanpa Penerbit.
Penghulu, H. Idrus Hakimy Dt. Rajo. 1984. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Karya CV.
Syarifuddin, Amir. 1984. Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta: Gunung Agung.
Tuah, H.Datoek, tt. Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.

Latest Articles Published :

What do you think?