Cerita Yang Diangkat Dalam Randai Sumatera Barat


Cerita yang diangkat ke dalam randai adalah cerita kaba. Cerita terbagi atas beberapa bagian. Setiap bagian terbagi atas adegan-adegan. Setiap adegan menampilkan dialog para pelaku. Diantara adegan itu dilakukan dengang yang diikuti tarian. Begitu seterusnya sampai cerita berakhir.

Sekurang-kurangnya ada lima bagian utama dalam cerita. Bagian-bagian itu adalah prolog (pembeberan mula), menuju puncak, puncak konflik, menuju penyelesaian, dan terakhir peyelesaian konflik. Kelima bagian itu dimainkan itu dimainkan secara bertahap oleh para pelaku.

Cerita Yang Diangkat Dalam Randai

Prolog atau pembeberan mula biasanya dilakukan dengan dendang. Salah seorang pemain mendendangkan pembukaan cerita. Ia berdendang sambil mengungkapkan perihal tokoh dan jalan cerita. Setelah itu dilakukan adegan yang merupakan dialog antara tokoh. Dialog-dialog awal itu biasanya adegan menuju titik puncak. Dialog menuju titik puncak dapat terjadi beberapa kali diselingi oleh dendang pemain.

Titik puncak terjadi sebagai klimaks antara tokoh yang membawa kebenaran dengan tokoh yang menolak atau menentang kebenaran. Biasanya disamping terjadi dialog yang tegang, berakhir dengan perkelahian. Dalam perkelahian di titik puncak ini, tokoh yang membawa kebenaran biasanya menang. Kadang-kadang cerita dapat berakhir di sini dan permain randai pun selesai.

Adakalanya setelah terjadi klimaks atau titik puncak, masih ada kelanjutan cerita. Kelanjutan itu terdiri dari beberapa adegan lagi. Adegan itu biasanya membawa cerita kepada penyelesaian. Adegan ini disebut menuju penyelesaian. Biasanya, menuju penyelesaian ini, secara bertahap, kesadaran tokoh yang menentang kebenaran mulai sadar. Kemudian pada akhir cerita yang merupakan penyelesaian, tokoh itu benar-benaar sadar dan mengakui kesalahannya dan mengikuti kebenaran.

Urutan peristiwa di dalam randai itu dinamakan alur cerita. Urutan itu tertata secara teratur mulai dari awal sampai akhir cerita. Dengan alur seperti itu, penonton dapat memahami jalan cerita dan dapat menikmati peristiwa demi peristiwa secara mendalam. Di dalam pengungkapan cerita melalui peristiwa dan alur itulah terdapat unsur budi, susila, malu, pendidikan dan kesadaran berbangsa.

Sumber Referensi:
Amran, Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
Junus, Umar. 1984. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau, Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Mahmud, St. dkk 1978. Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah. Limo Kaum: Tanpa Penerbit.
Navis, A.A 1986. Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Pt Pustaka Garafitipers.
Penghulu, M. Rasyid Manggis Dt. Rajo. 1982. Sejarah Ringkas Minangkabau dan Adatnya. Jakarta Mutiara.
Thaib, Darwis, glr. Dt. Sidi Bandoro. 1965. Seluk Beluk Adat Minangkabau. Bukittinggi: NV Nusantara.
Zulkarnaini. 1994. Modul Mata Pelajaran Muatan Lokal SLTP Terbuka. Jakarta: Depdikbud, Proyek Peningkatan Mutu dan Pelaksanaan Wajib Belajar SLTP.
Ramayulis, dkk. Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal tentang Sejarah Kebudayaan Minangkabau pada SD, SLTP, SLTA di Sumatera Barat. Padang: Tanpa Tahun, Tanpa Penerbit.
Penghulu, H. Idrus Hakimy Dt. Rajo. 1984. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Karya CV.
Syarifuddin, Amir. 1984. Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta: Gunung Agung.
Tuah, H.Datoek, tt. Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.
Image: sumbar.travel

Baca Juga:


What do you think?