Cara Mengambil Keputusan Kelarasan Koto Piliang di Sumatera Barat


Cara mengambil keputusan dalam kelarasan Koto Piliang adalah “bajanjang naiak, batanggo turun” (berjenjang naik, Bertangga turun), “naiak dari janjang nan di bawah, turun dari janjang nan di ateh” (naik dari jenjang yang di bawah, turun dari jenjang yang di atas). Permasalahan diajukan dari bawah, dari anak kemenakan. Dari anak kemenakan diajukan kepada tingkat “tunganai”, diteruskan kepada tingkat penghulu andiko, dilanjutkan ke tingkat penghulu kaampek suku, dan akhirnya sampai kepada penghulu pucuak. Keputusan diambil pada tingkat penghulu pucuak. Penghulu pucuak menurunkan kembali keputusan itu melalui jalur yang sama, hingga anak kemenakan menerimanya.

Cara Mengambil Keputusan Kelarasan Koto Piliang

Misalnya, terjadi masalah di dalam keluarga “saparuik”. Masalah itu disampaikan kepada Mamak Tungganai. Jika Mamak Tungganai belum menyelesaikan, diajukan kepada mamak penghulu Andiko. Oleh mamak penghulu Andiko, masalah itu juga tidak terselesaikan, ia menyampaikannya kepada penghulu kaampek suku. Kalau penghulu kaampek suku tidak mampu pula menyelesaikan, ia lanjutkan kepada mamak penghulu pucuak. Di tingkat penghulu pucuaklah masalah diputuskan. Keputusan penghulu pucuak merupakan keputusan akhir, keputusan yang tidak dapat dibantah, keputusan yang harus dilaksanakan oleh anak kemenakan di bawah naungannya.

Penghulu pucuak tidak langsung menyampaikan keputusan itu kepada kemenakannya. Ia menyampaikan melalui penghulu kaampek suku. Penghulu kaampek suku menerukannya pula kepada penghulu andiko, penghulu andiko meneruskannya pula kepada mamak Tungganai. Mamak tungganai menyampaikannya kepada anak kemenakan. Anak kemenakan wajib melaksanakannya, wajib menerimanya. Itulah yang dimaksud dengan “bajanjang naiak, batanggo turun, naik dari janjang nan di bawah, turun dari tanggo nan di ateh”.

Bagaimana kalau penghulu pucuak tidak mampu memutuskan atau menyelesaikannya?. Mungkin persoalannya sangat rumit. Penghulu pucuak tidak dapat mengambil keputusan. Dalam kasus seperti itu, penghulu pucuak akan membawa persoalannya ke tingkat nagari. Ia akan mengajak, melibatkan penghulu pucuak dari suku lain untuk memecahkan masalahnya secara bermusyawarah. Hal itu dibenarkan oleh adat Minangkabau seperti diungkapkan dalam kato pusako (kata pusaka) “panghulu samalu, duduak sahamparan, tagak sapamatang” (penghulu semalu, duduk sehamparan, berdiri sepematang).

Sumber Referensi:
Amran, Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
Junus, Umar. 1984. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau, Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Mahmud, St. dkk 1978. Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah. Limo Kaum: Tanpa Penerbit.
Navis, A.A 1986. Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Pt Pustaka Garafitipers.
Penghulu, M. Rasyid Manggis Dt. Rajo. 1982. Sejarah Ringkas Minangkabau dan Adatnya. Jakarta Mutiara.
Thaib, Darwis, glr. Dt. Sidi Bandoro. 1965. Seluk Beluk Adat Minangkabau. Bukittinggi: NV Nusantara.
Zulkarnaini. 1994. Modul Mata Pelajaran Muatan Lokal SLTP Terbuka. Jakarta: Depdikbud, Proyek Peningkatan Mutu dan Pelaksanaan Wajib Belajar SLTP.
Ramayulis, dkk. Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal tentang Sejarah Kebudayaan Minangkabau pada SD, SLTP, SLTA di Sumatera Barat. Padang: Tanpa Tahun, Tanpa Penerbit.
Penghulu, H. Idrus Hakimy Dt. Rajo. 1984. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Karya CV.
Syarifuddin, Amir. 1984. Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta: Gunung Agung.
Tuah, H.Datoek, tt. Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.

Baca Juga:


What do you think?