Asal Usul Luhak Limo Puluah Koto Menurut Tambo Minangkabau


Asal Usul Luhak Limo Puluah Koto Menurut Tambo Minangkabau
Sama seperti halnya “Luhak Nan Tuo” dan “Luhak Nan Tangah”, asal usul Luhak Limo Puluah Koto juga terdapat di dalam tambo dengan beberapa versi yang berbeda. Cerita pertama sama dengan Luhak Tanah Datar dan Luhak Tanah Datar. Sumur yang ketiga di puncak Gunung Marapi menjadi tempat minum penduduk yang terdiri dari lima puluh keluarga. Keluarga tempat air sumur tersebut pindah ke sebelah timur Gunung Marapi. Ketika sampat di tempat baru, mereka memberi nama sesuai dengan nama tempat minumnya di Gunung Marapi, yaitu “Luhak Limo Puluah” yang berarti sumur tempat minum lima puluh keluarga. Kemudian ditambah dengan “koto” di belakangnya, sehingga menjadi “Luhak Limo Puluah Koto”.

Versi kedua, tambo menceritakan bahwa dulu ada 50 orang dari Pariangan Padang Panjang. Sampai di suatu tempat mereka bermalam. Ketika pagi menjelang, ternyata rombongan berkurang 5 orang. Setelah ditanya kepada semua anggota, tidak ada yang tahu. Tempat itu kemudian diberi nama Padang Siantah, dekat Piladang sekarang.

Kata luak (luhak) berarti kurang. Jadi anggota yang berombongan 50 orang tersebut kini telah berkurang. Dari anggota rombongan yang lima puluh yang telah berkurang 5 orang, daerah tersebut di beri nama “Luhak Limo Puluah” yang kemudan ditambah dengan “koto” dibelakangnya, sehingga menjadi “Luhak Limo Puluah Koto”.

Luhak Limo Puluah Koto disebut “luhak nan bungsu” (luhak yang bungsu). Sebutan tersebut diberikan sesuai dengan urutan keberangkatan rombongan dari Pariangan Padang Panjang. Rombongan yang terakhir berangkat adalah orang yang menuju luhak ini. Oleh Luhak Puluah Koto disebut juga luhak nan bungsu.

Ungkapan mengenai luhak Limo Puluah Koto, adalah “buminyo sajuak, aianyo janiah, ikannyo jinak” (buminya sejuk, airnya jernih, ikannya jinak). Ungkapan tersebut menggambarkan watak masyarakat Luhak Limo Puluah Koto, yaitu hidup penuh kerukunan, memiliki ketenangan dalam berfikir dan homogen.

Rumah gadang di Luhak Limo Puluah Koto sama dengan rumah gadang Luhak Agam. Berlantai rata, tidak ada anjungan seperti rumah gadang Luhak Tanah Datar. Hal itu juga menggambarkan bahwa rumah gadang tersebut menganut kelarasan Bodi Caniago atau mengikuti paham Datuak Parpatiah Nan Sabatang.

Menurut tambo, nagari-nagari yang ada di Luhak Limo Puluah Koto terdiri dari lima bagian yaitu:
1. sandi, meliputi:
Bukit Sikabu Hilir sampai Muaro Mudiak, Nasi Random sampai Padang Samuik dengan nagarinya yaitu: Koto Nan Gadang dan Koto Nan Ampek.
2. Luhak, meliputi:
Mungo Mudiak sampai Limbukan, Mungo, Koto Kaciak, Andaleh, Tanjuang Kubu, Banda Tunggang, Sungai Kumuyang, Aua Kuniang, Tanjung Pati, Gadih Angik, Limbukan, Padang Karambia, Limau Kapeh, Aia Tabik Limo.
3. Lareh, meliputi:
Bukit Cubadak sampai Padang Balimbiang. Pusatnya adalah Sitanang Muaro Lakin, kemudian lahir nagari-nagari: Ampalu, Halalaban, Labuah Gunuang, Tanjuang Gadang, Unggan, dan Gunuang Sahilan.
4. Ranah, meliputi:
Gntiang, Koto Laweh, Suliki, Sungai Rimbang, Tiakar, Balai Mansiro, Talago, Balai Talang, Balai Kubang, Taeh, Simalanggang, Piobang, Sungai Baringin, Gurun, Lubuak Batingkok, Tarantang, Sari Lamak, Solok, Padang Laweh.
5. Hulu, meliputi:
Daerah Padang Laweh, Sungai Patai, Suliki, Gunuang Sago, Labuah Gunuang, Balai Koto Tinggi.

Sumber Referensi:
Amran, Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
Junus, Umar. 1984. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau, Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Mahmud, St. dkk 1978. Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah. Limo Kaum: Tanpa Penerbit.
Navis, A.A 1986. Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Pt Pustaka Garafitipers.
Penghulu, M. Rasyid Manggis Dt. Rajo. 1982. Sejarah Ringkas Minangkabau dan Adatnya. Jakarta Mutiara.
Thaib, Darwis, glr. Dt. Sidi Bandoro. 1965. Seluk Beluk Adat Minangkabau. Bukittinggi: NV Nusantara.
Zulkarnaini. 1994. Modul Mata Pelajaran Muatan Lokal SLTP Terbuka. Jakarta: Depdikbud, Proyek Peningkatan Mutu dan Pelaksanaan Wajib Belajar SLTP.
Ramayulis, dkk. Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal tentang Sejarah Kebudayaan Minangkabau pada SD, SLTP, SLTA di Sumatera Barat. Padang: Tanpa Tahun, Tanpa Penerbit.
Penghulu, H. Idrus Hakimy Dt. Rajo. 1984. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Karya CV.
Syarifuddin, Amir. 1984. Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta: Gunung Agung.
Tuah, H.Datoek, tt. Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.
image: zalpiliang.wordpress.com

Latest Articles Published :

What do you think?