Arti Pemimpin di Minangkabau


Arti Pemimpin di Minangkabau
Pemimpin di Minangkabau adalah orang yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Didahulukan selangkah agar antara pemimpin dengan yang dipimpin tidak terlalu jarak. Ditinggikan seranting agar tidak ada pemisah antara pemimpin dengan yang dipimpinnya. Sehingga antara pemimpin dengan yang dipimpinnya selalu dekat.

Seorang pemimpin di Minangkabau, dibesarkan oleh yang dipimpinnya, hal tersebut diungkap dalam kato pusako (kata pusaka) Minangkabau berikut:

Urang nan diamba gadang,
Nan dianjuang tinggi,
Kusuik kamanyalasaian,
Karuah nan kamanjaniahan,
Takalok manjagoan,
Lupo maingekan,
Panjang nan kamangarek,
Singkek nan kamauleh

Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, kira berbunyi sebagai berikut:

Urang nan diamba gadang,
Orang yang diambal besar
Nan dianjuang tinggi,
Yang dianjung tinggi
Kusuik kamanyalasaian,
Kusut yang akan menyelesaikan
Karuah nan kamanjaniahan,
Keruh yang akan menjernihkan
Takalok manjagoan,
Tertidur membangunkan
Lupo maingekan,
Lupa mengingatkan
Panjang nan kamangarek,
Panjang yang akan mengerat
Singkek nan kamauleh
Pendek yang akan mengulas

Disamping ia dibesarkan oleh yang dipimpin, ia juga ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Di dalam kebesaran itu, tertumpang kewajiban yang harus ia pikul. Kewajiban terhadap yang dipimpinnya amatlah berat. Selain itu Ia juga bertanggung jawab memimpin anggota kaumnya, memimpin anak kemenakannya.

Kesimpulannya, pemimpin di Minangkabau adalah orang biasa yang berasal dari anggota kaumnya sendiri, kemudian dengan kesepakatan kaum, ia dipilih dan dibesarkan. Setelah itu, ia akan dinobatkan menjadi pemimpin, dan ia memiliki sejumlah kewajiban terhadap orang yang memilihnya.

Sumber Referensi:
Amran, Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
Junus, Umar. 1984. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau, Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Mahmud, St. dkk 1978. Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah. Limo Kaum: Tanpa Penerbit.
Navis, A.A 1986. Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Pt Pustaka Garafitipers.
Penghulu, M. Rasyid Manggis Dt. Rajo. 1982. Sejarah Ringkas Minangkabau dan Adatnya. Jakarta Mutiara.
Thaib, Darwis, glr. Dt. Sidi Bandoro. 1965. Seluk Beluk Adat Minangkabau. Bukittinggi: NV Nusantara.
Zulkarnaini. 1994. Modul Mata Pelajaran Muatan Lokal SLTP Terbuka. Jakarta: Depdikbud, Proyek Peningkatan Mutu dan Pelaksanaan Wajib Belajar SLTP.
Ramayulis, dkk. Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal tentang Sejarah Kebudayaan Minangkabau pada SD, SLTP, SLTA di Sumatera Barat. Padang: Tanpa Tahun, Tanpa Penerbit.
Penghulu, H. Idrus Hakimy Dt. Rajo. 1984. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Karya CV.
Syarifuddin, Amir. 1984. Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta: Gunung Agung.
Tuah, H.Datoek, tt. Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.

Latest Articles Published :

What do you think?