Apa Yang Dimaksud Dengan Tabuik?


Apa Yang Dimaksud Dengan Tabuik Minangkabau?
Ia adalah seorang tokoh dalam sejarah Islam, bernama Husein. Husein adalah cucu Nabi Muhammad. Kaum syiah menyebutnya sebagai khalifah. Husein terbunuh dalam perang karbala. Dalam perang itu kepala Husein dipenggal, ditusuk dengan tombak. Kepala itu diarak dengan kegembiraan sambil menari-nari dan berteriak-teriak menyebut nama Husein. Dikisahkan, saat itu datang seekor burung buraq. Buraq menyambar kepala Husein dari ujung tombak dan membawanya terbang ke langit. Peristiwa itu diperingati setiap 10 Muharram dengan membuat arak-arakan “tabuik” (bahasa Indonesia: tabut). Dari sinilah asal mulanya permainan tabuik tersebut.

Permainan tabuik berhubungan dengan Islam aliran syiah. Permainan ini bukan akidah, melainkan upacara peringatan terbunuhnya Husein tersebut. tidak ada hubungan dengan ibadah atau akidah Islam. Di Minangkabau, khususnya di pesisir Padang Pariaman, kini permaian tabuik telah membudaya. Bahkan menjadi ciri khas daerah tersebut.

Di Pariaman dikenal dengan “tabuik Piaman”. Masyarakat setempat menjadikan tabuik sebagai salah satu “alek” yang diselenggarakan setiap tahun. Pengunjung acara ini bukan hanya masyarakat Pariaman saja, tatapi sebagian besar juga berasal dari luar daerah dan luar provinsi. Bahkan turis asing dari manca negara pun ikut menyaksikan acara tabuik tersebut.

Kesimpulannya, Tabuik (bahasa Indonesia: tabut) adalah perayaan memperingati gugurnya Husain, cucu Nabi Muhammad, yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, khususnya di Kota Pariaman. Tabuik bukanlah asli Pariaman Minangkabau. Akan tetapi berkaitan dengan budaya luar. Meskipun berasal dari luar, kini telah memasyarakat, sehingga warga menganggapnya sebagai permainan anak nagari.

Sumber Referensi:
Amran, Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
Junus, Umar. 1984. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau, Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Mahmud, St. dkk 1978. Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah. Limo Kaum: Tanpa Penerbit.
Navis, A.A 1986. Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Pt Pustaka Garafitipers.
Penghulu, M. Rasyid Manggis Dt. Rajo. 1982. Sejarah Ringkas Minangkabau dan Adatnya. Jakarta Mutiara.
Thaib, Darwis, glr. Dt. Sidi Bandoro. 1965. Seluk Beluk Adat Minangkabau. Bukittinggi: NV Nusantara.
Zulkarnaini. 1994. Modul Mata Pelajaran Muatan Lokal SLTP Terbuka. Jakarta: Depdikbud, Proyek Peningkatan Mutu dan Pelaksanaan Wajib Belajar SLTP.
Ramayulis, dkk. Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal tentang Sejarah Kebudayaan Minangkabau pada SD, SLTP, SLTA di Sumatera Barat. Padang: Tanpa Tahun, Tanpa Penerbit.
Penghulu, H. Idrus Hakimy Dt. Rajo. 1984. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Karya CV.
Syarifuddin, Amir. 1984. Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta: Gunung Agung.
Tuah, H.Datoek, tt. Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.
Image: ayokepariaman.com

Latest Articles Published :

What do you think?