Alunan Musik Dendang dan Karawitan Dalam Randai


Alunan Musik Dendang dan Karawitan Dalam Randai
Dendang atau nyanyian memiliki fungsi yang sangat penting dalam randai. Dendang berguna untuk menyampaikan kisah. Dendang dikumandangkan sambil melingkar. Mula-mula seseorang mendendangkan sepotong kisa atau sebait pantun. Pada setiap kalimat terakhir mereka mengulang dendang bersama-sama. Selesai mendendangkan sebuah kisah, mereka kembali melakukan gerakan tari atau pencak. Kemudian ditampilkan adegan atau dialog. Saat pelaku berdialog, pemain yang lain melingkar di arena.

Dendang ditampilkan dalam berbagai irama lagu klasik Minangkabau. Ada irama cepat, ditampilkan dengan tempok yang amat cepat. Jika dendangnya dengan tempo cepat, gerakan pencak yang dilakukan juga cepat. Ada yang berirama menengah dengan tempo sedang dan ada pula tempo yang lambat. Setiap irama atau tempo dendang disesuaikan dengan gerakan pencak.

Pemain musik dendang utama dalam randai dipilih oleh ketua randai. Suaranya amat merdu. Biasanya pemain yang berperan sebagai pedendang ini juga laki-laki. Di dalam randai memang tidak ada wanita yang ikut bermain. Jika di dalam pelakunya ada wanita, laki-laki diberi kostum (pakaian) wanita, sehingga mirip dengan wanita. Namun, hal itu mungkin sudah tidak berlaku lagi. Di dalam pertunjukan randai sekarang, telah ada pemain wanita.

Biasanya, pemain dendang ini menjadi bintang atau primadona anak randai. Ia disenangi dan disukai oleh penonton. Pemain mendendangkan sepotong kisa. Misalnya kisah seorang wanita atau gadis berjalan. Gadis itu berjalan di jalan raya menuju ke suatu tempat. Diungkapkan dalam dendang sebagai berikut:

Lah bajalan si Gondo Riah, bajala si ganjua lalai, pado pai suruik nan labiah, alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati. Di hiliakan labuah nan panjang, labuah panjang liku-baliku, pudiang ameh batimba jalan, pudiang merah salo-manyalo.
Alah sarantang pajalan, cukuik kaduo rantang panjang, hampia katibo hanyo lai, etan di rumah mamak kanduangnyo, andailah jatuah sakutiko.

Setiap kalimat akhir dari dendang itu di ulang bersama-sama oleh pemain. Sedangkan kalimat sebelumnya hanya didendangkan oleh seorang pemain. Selesai pengulangan dengan ungkapan “andailah jatuah sakutiko”, semua pemain duduk melingkar. Pemain yang berperan sebagai SI Gondo Riah dan mamaknya tampil ke tengah-tengah lingkaran. Kemudian mereka melakukan dialog sesuai dengan jalan cerita. Begitulah seterusnya dendang ditampilkan diantara dialog para pemain randai.

Sumber Referensi:
Amran, Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
Junus, Umar. 1984. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau, Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Mahmud, St. dkk 1978. Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah. Limo Kaum: Tanpa Penerbit.
Navis, A.A 1986. Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Pt Pustaka Garafitipers.
Penghulu, M. Rasyid Manggis Dt. Rajo. 1982. Sejarah Ringkas Minangkabau dan Adatnya. Jakarta Mutiara.
Thaib, Darwis, glr. Dt. Sidi Bandoro. 1965. Seluk Beluk Adat Minangkabau. Bukittinggi: NV Nusantara.
Zulkarnaini. 1994. Modul Mata Pelajaran Muatan Lokal SLTP Terbuka. Jakarta: Depdikbud, Proyek Peningkatan Mutu dan Pelaksanaan Wajib Belajar SLTP.
Ramayulis, dkk. Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal tentang Sejarah Kebudayaan Minangkabau pada SD, SLTP, SLTA di Sumatera Barat. Padang: Tanpa Tahun, Tanpa Penerbit.
Penghulu, H. Idrus Hakimy Dt. Rajo. 1984. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Karya CV.
Syarifuddin, Amir. 1984. Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta: Gunung Agung.
Tuah, H.Datoek, tt. Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.

Latest Articles Published :

What do you think?