Wilayah Darat (Luhak) Minangkabau


Wilayah Darat (Luhak) Minangkabau
Wilayah Minangkabau terbagi atas tiga kelompok yang dibuat atas kedudukannya, yaitu wilayah darek atau luhak, wilayah rantau dan wilayah pasisia (pesisir).  Namun pada kali ini kita akan membicarakan khusus tentang wilayah darek atau luhak saja. Wilayah darek atau luhak yang akan kita bahas yaitu luhak tanah datar, luhak agam dan luhak limo puluah koto.

LUHAK TANAH DATAR

Dalam tambo begitu banyak cerita yang menjelaskan tentang asal usul luhak ini. Namun ada dua cerita yang paling mononjol.
Pertama, menyebutkan dahulu kala ketika nenek moyang orang minangkabau masih tinggal di puncak gunung merapi, disana ada tiga buah sumur yang diartikan juga sebagai luak (luhak). Salah satu dari ketiga sumur itu terletak di tanh yang datar. Orang-orang yang biasa minum di luhak ini tersebut pindah ke suatu tempat. Tempat itulah yang disebut sebagai luhak tanah datar sesuai dengan tempat sumur digunung merapi.

kedua, dahulu kala nenek moyang orang minangkabau pertama-tama membuat  nagari di pariangan padang panjang. Lama-lama nagari itu terasa semakin sempit karena masyarakat terus berkembang. Hingga mereka mencari daerah baru sebagai tempat tinggal mereka. Salah satu dari daerah itu adalah daerah yang tidak datar. Tanahnya berbukit-bukit dan berlembah-lembah. Dikarenakan daerah itu tidak datar, maka daerah itu akhirnya diberi nama luhak tanah datar. Luhak disini mengandung makna “kurang”, tanah yang kurang datar. 

Dalam mamangan atau kata pusaka dijelaskan
Dari mano titiak palito
Dari telong nan batali
Dari mano asa niniak kito
Dari puncak gunuang merapi

Makna yang terkandung didalam kata pusaka tersebut adalah mulanya dari lereng gunung merapi yaitu pariangan padang panjang. Pariangan padang panjang adalah tempat mula-mula pemukiman orang minangkabau.  Perkembangan penduduk yang pesat membuat wilayah tersebut terasa semakin sempit. Sehingga mereka mencari tempat yang baru yaitu luhak tanah datar. 

Luhak limo tanah datar disebut juga dengan “luhak nan tuo” (luhak yang paling tua).  Semua itu berhubungan dengan perpindahan dari pariangan padang panjang, yaitu perpindahan masyarakat pertama adalah menuju ke tanah datar, kemudian baru ke luhak yang lainnya. 

Disamping semua itu luhak tanah datar juga memiliki ungkapan yang khas. Ungkapan tersebut berbunyi “ buminyo lembang, aianyo tawa, ikannyo banyak”. Ungkapan ini menggambarkan watak dari masyarakatnya yaitu, masyarakatnya banyak dan statusnya tidak merata. Mungkin karena disinilah istana pagaruyung berdiri.

Rumah gadang luhak tanah datar pun berbeda  dengan luhak yang lain. Rumah gadangnya memiliki anjungan (tinggi) disebelah kiri dan kanan atau yang disebut dengan “rumah gadang lareh koto piliang”. Di daerah ini lareh koto piliang adalah lareh yang paling mendominasi dan berpengaruh besar. 

Daerah-daerah yang termasuk luhak tanah datar yaitu
  • Tampuak tangkai pariangan VIII koto : pariangan, padang panjang, guguak, sikaladi, koto tuo, tanjuang limau, sialahan, batu basa.
  • Tanjuang langgan dihilia : turawan, padang luar, padang magek, sawah kareh, kinawai, balimbiang, bukik tamusu.
  • Limo kaum XII koto : dusun tuo, balah balabuah, bali batu, kubu rajo, piliang, ngungun, panti, silabuak ampalu, parambahan, cubadak,supanjang, pabalutan, sawah jauh, rambatan, tabek sawah tangah.
  • IX koto didalam : tabek boto, salogondo, baringin, koto, baranjak, lantai batu, bukik gombak, sungai ameh, ambacang baririk, rajo dani.
  • Tanjuang nan tigo, lubuah nan tigo : tanjuang alam, tanjuang sungayang, tanjuang barulak, lubuak sikarah, lubuak simauang, lubuak sipunai.
  • Sungai tarab XIII batu : limo batu dan tigo batu, ikua kapalo kapak, randai gombak ketitiran dengan nagari : koto tuo pasisia laweh, koto baru rao-rao, salo patir simaniak, supayang, situmbuak, gurun ampalu, sijangek koto badampiang.
  • Langgam nan tujuah : labutan, sungai jambu, batipuah nagari gadang, tanjuang balik sulik aia, singkarak, saniang bakar, silungkang, padang sibusuak, sumaniak, suraso.
  • Batipuah X koto : batipuah, koto baru aia angek, koto laweh, pandai sikek, panyalaian, bukik suruangan, gunuang, paninjauan, jaho tambangan, pitalah bungo tanjuang, sumpu malalo, singgalang.
  • Lintau buo IX koto : batu buleh, balai tangah, tanjuang bonai, tapi selo lubuak jantan, buo, pangian, taluak tigo jangko.

LUHAK AGAM

Asal usuk luhak agam pun terdapat dalam tambo, dengan versi yang banyak pula. 
Versi pertama sama  dengan luhak tanah datar , digunuang merapi terdapat pula sumur (luak). Luak itu ditumbuhi sumur oleh rumput mensiang (agam). Mereka biasa minum air disumur itu kemudian pindah kesuatu tempat. Tempat pindahnya itu kemudian dinamakan sesuai dengan nama sumur tempat mereka biasa minum, yaitu luhak agam.

Versi kedua, setelah rombongan yang berpindah ke luhak tanah datar, lalu rombongan kedua pun mulai berangkat. Rombongan ini menuju utara. Ditempat tersebut mereka menemukan lubuk atau luak yang dipenuhi oleh tumbuhan mensiang (agam). Akhirnya tempat itu dinamakan dengan luhak agam. 

Semua itu telah diungkapkan dalam mamangan orang minangkabau
Nan sabalik gunung merapa
Saedaran gunuang singgalang
Sakaliliang danau maninjau
Banamo luhak tanah agam

Luhak agam juga disebut sebagai “luhak nan tangah”. Nama itu sesuai dengan keberangkatan rombongan dari pariangan padang panjang. Selain itu, luhak agam juga memiliki ungkapan yaitu “buminyo angek, aianyo karuah,ikannyo lia”. Ungkapan itu sesuai dengan watak masyarakatnya. Dalam ungkapan tersebut dijelaskan bahwasanya orang agam berwatak panas, masyarakatnya heterogen, persaingannya dalam hidup sangat tajam. 

Rumah gadang luhak agam juga berbeda dengan rumah gadang luhak tanah datar. Lantai rumah gadangnya rata kiri dan kanan. Hal tersebut dikarenakan mereka menganut kelarasan bodi caniago. 
Menurut tambo, perpindahan penduduk dari pariangan padang terjadi empat periode yang terdiri dari empat kaum. Periode pertama sampai ke daerah IV angkat sekarang. Mereka mendirikan nagari : biaro, balaigurah, lambah, panampuang.
Rombongan kedua mendirikan nagari : canduang koto laweh, kurai, dan banahumpu.
 Rombongan ketiga mendirikan nagari : sianok, koto gadang, guguak, tabek sarojo.
Rombongan ke empat mendirikan nagari : sariak, sungai pua, batagak, batu palano.

Dengan keberangkatan empat rombongan itu mereka itu mereka diluhak agam hanya mendirikan enam belas koto pada mulanya. Kemudian barulah berkembang dan lahir nagari di daerah lain seperti : kapau, gaduik, salo, koto baru, magek, tilatang kamang, tebek panjang, simarasok, padang tarab dlln.

LUHAK “LIMO PULUAH KOTO”

Selain kedua luhak diatas, luhak limo puluah koto juga mempunyai cerita tentang asal usulnya. 
Cerita pertama sama seperti kedua luhak lainnya. Sumur yang ketiga dipuncak gunung merapi menjadi tempat minum lima puluah koto. Penduduk yang biasa minum air sumur itu pindah ke arah timur gunung merepi. Ketika sampai di tempat baru, mereka memberi nama daerah tersebut dengan “ luhak limo puluah keluarga”. Hal tersebut karena sumur tersebut merupakan tempat minum lima puluh keluarga. Kemudian di tambah dengan kata “koto” di belakangnya. 

Cerita kedua, mulanya berangkat lima puluh keluarga dari pariangan padang panjang. Kemudian mereka bermalam disuatu tempat. Pagi,pagi ternyata rombongan kurang lima orang. Setelah ditanya kepada semua anggota, ternyata tidak ada yang tahu ke mana yang lima orang itu pergi. Tempat itu kemudian di beri nama padang siantah, yakni dekat piladang sekarang. Berdasarkan cerita versi ini kata “luak” berartikan kurang. Jadi orang yang lima puluh orang itu, berkurang lima orang atau telah luhak lima orang. Dari anggota rombongan yang lima puluh telah luhak itulah maka diberi nama daerah tersebut  dengan “ luhak limo puluah” kemudian ditambah di belakangnya “koto”. Dengan demikian daerah tersebut disebut dengan “luhak limo puluah koto”.

Luhak limo puluah koto sering disebut juga dengan “luhak nan bungsu”. Nama itu diambil dari waktu keberangkatan penduduk dari daerah pariangan padang panjang ke daerah ini. Selain itu luhak limo puluah koto juga memiliki ungkapan “ buminyo sajuan, aianyo januah, ikannyo jinak”. Makna dari ungkapan ini menggambarkan watak masyarakatnya yaitu ; penduduknya yang homogen, dan penuh kerukunan. Mereka memiliki ketenangan dalam berfikir. 

Rumah gadang luhak limo puluah koto sama seperti luhak agam. Lantai rumah gadangnya rata kiri kanan. Mereka menganut kelarasan bodi caniago. 

Menurut tambo luhak limo puluah koto terdiri dari lima bagian :
1. Sandi : bukit sikabu hilir sampai mudiak, nasi randam sampai pdang samuik nagarinya : koto nan gadang dan koto nan ampek.
2. Luhak : mungo mudiak sampai ke limbukan, mungo, koto kaciak, andaleh, tanjuang kubu, banda tunggang, sungai kumuyang, aua kuniang, tanjuang pati, gadih angik, limbukan, padang karambia, limau kapeh, aia tabik limo.
3. Lareh : bukik cubadak sampai padang balimbiang. Pusatnya adalah sitanang muaro lakin, kemudian lahir nagari : ampalu, halaban, labuah gunuang, tanjuang gadang, unggan dan gunuang sahilan.
4. Ranah : gantiang, balai talang, balai kubang, taeh, simalanggang,piobang, sungai baringin, gurun, lubuak batingkok, tarantang, sari lamak, solok, padang laweh.
5. Hulu : padang laweh, sungai patai, suliki, gunuang sago, labuah gunuang, balai koto tinggi.

Baca Juga:


What do you think?