Sistem Kekerabatan Matrilineal Minangkabau


Masyarakat minangkabau hidup dengan berkelompok. Pengelompokan tersebut terbentuk karena adanya suku, kampung yang sama, nagari yang sama, atau sedaerah budaya.jika kita melihat dari pengelompokan yang didasarkan suku, masyarakat minangkabau terdiri dari suatu kelompok kecil seperti seibu, senenek, setungganai, atau sesuku. Pengelompok tersebut terjadi karena hubungan kekerabatan dan pertalian. Pertalian tersebut terjadi karena dua hal yaitu hubungan keturunan dan kedua, perkawinan.

Kekerabatan matrilineal
Setiap masyarakat minangkabau pastinya memiliki suku. Suku tersebut mengikuti suku perempuan atau ibu. Sistim ini disebut sebagai sistem matrilineal. 

Budaya minangkabau adalah budaya terbuka yang dapat menerima pengaruh budaya dari luar. Terkadang pengaruh tersebut tidak di filter dan sebagian juga ada yang di fileter sehingga segi-segi positif dari kebudaayan luar tersebut diterima. Namun untuk beberapa hal, masyarakat minangkabau memang tidak menerima pengaruh dari kebudayaan lain seperti sitem kekerabatan matrilineal. Sistem kekerabatan ini sudah turun-temurun dari nenek moyang orang minangkabau.   
Dalam sebuah kata pusaka diungkapkan:
Cupak indak di aliah urang manggaleh
Jalan indak dialiah urang lalu
Terbukti hingga saat ini sistem ini masih dipakai oleh orang minangkabau. Hal tersebut terjadi karena memang sistem ini sudah teruji sangat baik dan masuk akal. 

Dalam sistem matrilineal perkawinan sesuku sangat dilarang karena memang berada pada satu garis keturunan.  Satu garis keturunan berartikan bahwa mereka “badunsanak”. Seperti itulah orang minangkabau mengatakan.

Disisi lainnya, hubungan sistem kekerabatan matrilineal terikat dengan kesamaan rumah gadang. Begitu juga dengan harta pusaka yang di pegang oleh seorang ibu. Ikatan harta pusaka adalah ikatan yang berbentuk materi seperti sawah dan ladang serta yang bukan berupa materi seperti sako. Dalam ungkapan kata pusaka dijelaskan seperti berikut:
Sasako sapusako
Sasuku saharato
Sasakik sasanang
Sahino samalu

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan dalam pelaksanaan sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau terlihat pada hal berikut:
 a.       Suku diturunkan menurut suku ibu.
 b.      Anak dari dua orang perempuan yang bersaudara tidak dapat menikah.
 c.       Tidak boleh menikah bagi orang yang memiliki suku yang sama.
 d.      Keterikan dalam rumah gadang.
 e.      Matrilineal terikat oleh harta pusaka dan pusaka atau “sako”.

Keturunan dari garis ibu
Masyarakat minangkabau terikat dengan kesatuan keturunan. Keturunan tersebut berasal dari garis keturunan ibu.  Garis keturunan ini berpengaruh terhadap struktur atau tatanan masyarakat minangkabau. Pengaruh tersebut terlihat dalam berbagai segi kehidupan di minangkabau. Pengaruh tersebut terutama pada fungsi masing-masing individu didalam masyarakat. Pengaruh lainnya yaitu ibu lebih tinggi fungsinya dan kekuasaannya di dalam rumah ketimbang bapak. Pengaruh lainnya juga terjadi pada perkawinan. Pelarangan perkawinan sesuku merupakan khas keturunan ini. 

Kekuasaan ibu lebih tinggi dari bapak. Maka dari itu orang tua wanita mendapatkan keutamaan dalm kekerabatan. Wanita tertua di dalam keluarga di juluki “limpapeh”.laki- laki tertua dalam di juliki “tungganai” yang berperan sebagai “mamak kapalo warih”. Mamak kepala waris hanyalah bertugas untuk memelihara, mengolah, dan mengembangkan harta miliki kaum dan tidak berhak untuk menggunakannya.

Itu hanyalah beberapa pengaruh yang terjadi karena sistem kekerabatan matrilineal. Sebenarnya masih banyak lagi pengaruh yang diberikan karena kekerabatan ini terhadap struktur sosial kehidupan masyarakat di minangkabau.


Latest Articles Published :

1 komentar :

menurut saya ada yang kurang dari sistem nya, jika diperkenankan saya punya referensi yang bisa menambah masukan juga http://www.jurnaliscun.net/2015/06/sistem-kekerabatan-yang-ada-di-indonesia.html

Balas

What do you think?