Sifat dan Bentuk Kekerabatan Matrilineal


Sifat dan Bentuk Kekerabatan Matrilineal
Sebuah kebudayaan yang layak disebut sebagai sesuatu yang patut dan membudaya adalah kebudayaan yang teruji oleh waktu dan mampu melewati seleksi alam. Begitulah kebudayaan minangkabau yang hingga saat ini masih dipakai dan digunakan oleh orang minangkabau. Salah satunya adalah sistem kekerabatan yang matrilineal. sistem yang mengambil garis keturunan dari garis keturunan ibu. Hingga saat ini sistem kekerabatan ini masih dipakai dan menjadi acuan bagi orang minangkabau.

“indak lakang karano paneh, indah lapuak karano hujan”, begitulah  bahasa minangkabau mengungkapkan. Sistem kekerabatan matrilineal hingga saat ini masih bertahan. Dari generasi ke generasi sistem ini masih tetap melekar erat dalam kehidupan orang minangkabau. Hal ini memang dikarenakan sistem kekerabatan matrilineal sangat ampuh dalam mengatur sistem kekerabatan dari orang minangkabau.  Begitu banyak kebudayaan yang masuk dan keluar,tetap saja sistem ini tidak mengalami perubahan.

Lalu, apakah yang membuat sistem ini tak lekang oleh waktu?, mungkin karena sifat dan bentuknya yang memang alamiah. Dengan kata lain, sistem ini sangat membudaya dan mendarah daging dalam kebudayaan minangkabau secara alamiah. Kekerabatan ini muncul lebih awal dari sistem kekerabatan lain. Sifat dan bentuknya telah membudaya sejak manusia ini ada.

Dalam topik kali ini kita akan membahas tentang sifat dan bentuk alamiah kekerabatan matrilineal minangkabau.
Pertama sifat dan bentuk kekerabatan minangkabau. Sifat dan bentuk kekerabatan minangkabau adalah alamiah. Sejak manusia dilahirkan peran seorang ibu sangatlah besar daripada seorang bapak. Pertanggungjawabannya juga lebih besar, terutama kepada anaknya. Hal itu dapat diamati dari proses manusia masih dalam kandungan, kemudiaan proses kelahiran manusia, tumbuh dan berkembang, hingga akhirnya menjadi dewasa. Proses itulah yang disebut alamiah atau bersifat kealaman.

Kekerabatan minangkabau meniru proses yang alamiah tersebut. Mereka meniru  dari alam seperti yang terungkap dalam filsafat minangkabau “alam takambang jadi guru”. Tidak hanya manusia , hewan pun seperti itu. Coba kita lihat ayam atau binatang lain. Dalam hidupnya, mulai dari kecil hingga dewasa ia selalu mengikuti kemanapun ibunya pergi hingga ia menjadi dewasa. oleh karena itu kekerabatan orang minangkabau ditandai dengan bersuku kepada ibu, sifat dan bentuk ini sangat alamiah karena menurut kepada sifat alam.

Kekerabatan yang seperti ini adalah ciri khas dari kekerabatan minangkabau. Semua didasarkan kepada apa yang ada dan terjadi dialam ini. Sifat-sifat dan bentuk alam ditiru untuk membuat adat minangkabau termasuk kekerabatan dalam masyarakat minangkabau.

Kedua, sifat dan bentuk alamiah kekerabatan matrilineal. matrilineal artinya kekerabatan yang menurut garis keturunan ibu. Seorang anak laki-laki ataupun perempuan mengikuti suku ibunya. Gelar pusaka diterima dari mamaknya  dan harta warisan di wariskan secara turun temurun, dan dikuasai oleh kaum perempuan. Jika terjadi perceraian, maka yang harus pergi adalah seorang suami bukan sang istri.

Lalu, kenapa semua harta dikuasai oleh kaum perempuan?. Didalam kekerabatan matrilineal, harta pusaka dikuasai oleh kaum perempuan, laki-laki hanya sebagai pelindung dan pemelihara harta pusaka tersebut. Penggunaannya diatur oleh kaum perempuan. Semua itu juga didasarkan pada sifat dan bentuk alamiah alam. Secara alamiah dan biologis, perempuan lebih lemah dari laki-laki. Selain itu perempuan juga lebih teliti dan hati-hati. Perempuan juga tidak mungkin mencari kebutuhan seperti laki-laki. Maka dari itu, kekerabatan matrilineal memberikan hak kepada kaum perempuan untuk menguasai harta pusaka. Dilain hal juga karena kodratnya sebagai makhluk tuhan.

Dalam sebuah pernikahan atau perkawinan seorang laki-laki datang dan tinggal dirumah perempuan. Mereka tinggal dalam sebuah rumah gadang. Rumah gadang tersebut dikuasai oleh kaum perempuan suku tersebut. Jadi kalau terjadi perceraian, tidak mungkin perempuan tersebut yang harus pergi meninggalkan rumah. Perempuan tidak mungkin mencari dan mengusahakan tempat tinggal karena kodratnya sebagai perempuan lebih lemah dari laki-laki. Jadi sudah selayaknya perempuan yang menugasai harta pusaka.

Ketiga sifat dan bentuk matrilineal. matrilineal berpedoman kepada alam. Seorang anak sejak kecil lebih dekat kepada ibunya. Ibu diberi tanggungjawab yang besar untuk membesarkan dan mendidik anaknya. Sehingga suku yang dianut oleh sang anak juga suku ibu. Sehingga lahirlah pengelompokan masyarakat diminangkabau yang didasarkan pada suatu garis keturunan yang sama yaitu disebut suku. Orang yang satu suku tersebut disebut dengan “badunsanak”. Semua itu bermula dari garis keturunan atau saparuik. Hingga semakin besar lalu berubah menjadi kaum.

Selain diikat oleh satu garis keturunan, mereka juga diikat oleh kesamaan rumah gadang. Pemekaran satu rumah gadang akan menjadi beberapa rumah gandang namun dengan suku yang sama. Suku dijadikan dasar hubungan kekerabatan antara rumah gadang tersebut.

Jadi, sifat kekerabatan matirlineal meniru kepada alam. Sedangkan bentuknya berupa masyarakat yang hidup secara kolektif dengan segala cirinya yang khas.

Latest Articles Published :

What do you think?