Kelarasan Koto Piliang di Minangkabau


Kelarasan Koto Piliang di Minangkabau
Pada bagian artikel sebelumnya, sanak minang telah membaca tentang makna kelarasan. Kita juga telah membahas sedikit tentang kelarasan koto piliang. Pada bagian ini kita akan mencoba membahas lebih jauh tentang kelarasan koto piliang tersebut. Apa yang di maksud dengan kelarasan koto piliang?, adalah sebuah sistem pemerintahan adat minangkabau menurut aliran koto piliang. Aliran koto piliang ini awal berdirinya di ciptakan dan di pimpin oleh Datuak Katumanggungan. Jikalau kepemimpinan Datuak Parpatih Nan sabatang lebih bersifat demokratis, lain halnya dengan kepemimpinan Datuak Katumanggungan. Kepemimpinan Datuak Katumanggungan lebih bersifat otokrasi, berdaulat kepada raja, dan setiap kebijaksanaan berasal dari atas (raja). Begitupun dari tingkatan pengulunya, jika dalam aliran bodi caniago tidak mengenal tingkatan, dalam kelarasan koto piliang pengulu memiliki tingkatan. Jika di lihat dari bentuk rumah gadangnya, aliran bodi caniago mempunyai ciri  khas lantainya yang rata kiri dan kanan, sedangkan koto piliang beranjung di kiri dan di kanan.

Pada artikel tentang kelarasan bodi caniago kita sudah membahas sedikit tentang kepemimpinan dari aliran koto piliang. Sekarang sedikit mengulang lagi, kelarasan koto piliang di gagaskan atau diciptakan oleh Datuak Katumanggungan. Bapaknya adalah seorang raja yang bergelar Sri MahaRaja Diraja. Sebagai anak raja. Sifat-sifat raja menurun kepada Datuak Katumanggungan. Kata-katanya sama dengan undang-undang. Rakyat harus patuh kepada raja dan mengikuti perintah raja. Namun, Datuak Katumanggungan adalah seorang raja yang bijaksana, cerdas, dan tegas. Oleh karena itu pada masa kepemimpinannya rakyat hidup damai dan sejahtera.

Pelaksanaan pemerintahan dalam kelarasan koto piliang menurut pada yang digariskan dari atas. Dalam nagari, pemerintahan di pimpin oleh seorang pengulu pucuak. Pengulu pucuak ini dalam melakukan tugasnya dibantu oleh pengulu kaampek (ke-empat) suku. Dibawah pangulu pucuak ada lagi pangulu andiko  yang langsung berhubungan dengan rakyat.

Jadi dapat disimpulkan, dalam kelarasan koto piliang pangulu memiliki tingkatan, tingkatan tersebut yaitu :
1.       Pangulu pucuak. Adalah pangulu yang tertinggi dan memiliki kekuasaan tidak terbatas.
2.       Pangulu kaampek (keempat) suku. Yaitu pangulu yang membantu pangulu pucuak dalam melakukan tugasnya.
3.       Pangulu andiko. Pangulu yang langsung berhadapan dengan rakyatnya.

Menurut kelarasan koto piliang, sembah datangnya dari rakyat, dan titah datangnya dari raja (pangulu).  Hal ini dalam minangkabau dikenal dengan istilah “titiak dari ateh”, artinya segala kebijaksanaan berasal dari atas. Masyarakat tidak di ikutsertakan dalam pengambilan kebijaksanaan.

Berhubungan dengan penyelesaian masalah dalam masyarakat, koto piliang memberlakukan sistem yang dikenal dengan “ bajanjang naik. batanggo turun”. Maksudnya adalah masalah yang terjadi dalam masyarakat, penyelesaiannya dimulai dari tungganai. Jika tungganai tidak mampu menyelesaikan permasalahan tersebu, maka akan di lanjutkan ke tingkat pangulu andiko. Jika pada tingkat pangulu andiko, permasalahan tersebut juga tidak selesai maka akan berlanjut kepada tingkat pangulu kaampek suku. Jika permasalahan tersebut juga tidak dapat terselesaikan, barulah terakhir permasalahan tersebut di selesaikan oleh pangulu pucuak. Pangulu pucuak mengambil keputusan terhadap permasalah tersebut dan keputusan tersebut adalah keputusan mutlak.

Menurut tambo daerah kekuasaan atau kebesaran koto piliang adalah langgam na tujuah dan basa ampek balai.
Langgam nan tujuah terdiri dari : (1) singkarak - saniangbaka, camin taruih koto piliang, (2) sulik aia-tanjuang balik, cumati koto piliang, (3) padang gantiang, suluah bendang koto piliang, (4) saruaso, payuang panji koto piliang, (5) labuatan – sungai jambu, pasak kungkuang koto piliang, (6) batipuah, harimau koto piliang, (7) simawang – bukik kanduang, padamaian koto piliang.
Basa Ampek Balai terdiri dari : (1) bandaharo di sungai tarab, pamuncak koto piliang, (2) indomo di saruaso, payuang panji koto piliang, (3) kali di padang gantiang, suluah bendang koto piliang dan (4) makudum di sumaniak, aluang bunian koto piliang.

Kebesaran koto piliang ini juga di jelaskan dalam mamangan adat minangkabau, yaitu :
Ditarah sarat bungo kondai
Batikam bahulu gadiang
Carano batirai suto
Basilam basuji maniah
Rendo ameh bari baturab
Kabasaran basa ampek balai
Tuan kali di padang gantiang
Tuan indomo di saruaso
Tuan mangkudum di sumaniak
Bandaro di sungai tarab
Bandaro di sungai tarab adalah menteri besar,  (pamuncak koto piliang. Indomo di saruaso adalah menteri kehakiman dan menteri dalam negeri (payuang panji koto piliang). Kali di padang gantiang adalah menteri pengajaran dan ibadat (suluah bendang koto piliang). Makudum di sumaniak menteri keuangan dan luar negeri ( aluang bunian koto piliang).

Selain basa kaampek balai ini adalagi seseorang yang bernama Tuan gadang yang berkedudukan di batipuah. Ia menjabat panglima seluruh minangkabau. Dengan susunan itu koto piliang di kenal dengan “lareh nan panjang”.

Sistem pemerintahan Koto piliang

Tadi sudah dijelaskan bahwa koto piliang bersifat otokrasi atau berdaulat kepada raja. Kekuasaan berada di tangan raja.  Raja tersebut dalam aliran koto piliang minangkabau disebut dengan panglu pucuak.

Dalam aliran otokrasi, adatnya bisa dikatakan amat keras.  Semua yang berhubungan dengan ketentuan harus dilaksanakan.  Dalam koto piliang juga tidak boleh bertindak sewenang-wenang, tapi harus mengikuti aturan  dan ketentuan, atau harus sesuai dengan ketetapan adat. hal tersebut sesuai dengan ungkapan berikut :
Nan babarih nan bapaek
Nan baukua nan bakabuang
Curiang barih buliah diliek
Cupak panuak gantang babubuang

Walaupun koto piliang bersifat otokrasi, dalam  penyusunan ketentuan dan peraturan bersifat demokrasi.  Ditingkat pangulu pucuak bersama-sama dengan pangulu dari suku secara musyawarah dan mufakat menetapkan segala ketentuan dan peraturan yang akan dilaksanakan.

Cara pengambilan keputusan

Cara pengambilan keputusan dalam koto piliang sesuai dengan istilah “bajanjang naik, batanggo turun”.  Artinya permasalahan datang dari bawah yaitu rakyat, lalu di selesaikan secara bertahap sesuai dengan tingkatannya. hingga nantinya sampai kepada pangulu pucuak. Dari pangulu tertinggi ini turun lagi secara bertingkat hingga akhirnya sampai ke pada rakyat.

Lalu, bagaimana kalau seandainya pangulu pucuak dalam nagari tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah dan tidak bisa mengambil keputusan?. Mungkin persoalannya sangat rumit. Dalam kasus seperti ini  pangulu pucuak akan membawa persoalan tersebut ke tingkat nagari. Ia akan melibatkan pangulu pucuak dalam nagari lain untuk memecahkan masalah secara musyawarah. Hal tersebut dibenarkan dalam adat minangkabau, seperti yang di ungkapkan dalam kato pusako (kata pusaka), yaitu pangulu samalu, duduak sahamparan, tagak sapamatang”.

Latest Articles Published :

What do you think?